Lepas sudah semua beban yang akhir-akhir ini menghimpitku, kupeluk bintang-bintang kecilku, aku tertawa melihat senyumnya mengembang, melihat binar indah yang menghias matanya, yang selalu membuatku jatuh cinta.
Angin bertiup perlahan menemani senja yang kian tenggelam, meninggalkan selarik warna jingga membuat mata enggan terpejam meski hanya sekejap.
”hari ini kita melewati angka 13 De” kata Al sambil memegang tanganku
”semoga kita tetap langgeng dan bahagia sampai tua” sambungnya sembari menciumku
Aku tersenyum mengiyakan, perasaan bahagia menyusup di rongga jiwaku rasa yang mengalir dari genggam tangannya menghangatkan ruang hatiku. Tiga belas tahun sudah aku hidup bersama Al, laki laki yang telah memberiku 3 anak yang manis dan begitu banyak kebahagiaan. Seseorang yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi begitu istimewa.
Aku pergi ke kantor dengan berbasah basah, hujan deras datang sepagian, membuat air yang seharusnya mengalir di parit meluap menutupi jalan, butir butir airnya tersibak membasahi semua yang melintas saat kendaraan bermotor melewatinya, dan angin yang nakal membawa tetesan hujan tak berarah, membuatku basah meski aku telah berlindung dibawah naungan payung lebar.
“ciiee ada yang dapet kiriman bunga tuh…?” goda Aya
“ada kuenya juga lho… kita mau dong..” sahut temanku yang lain
Aku membelalakkan mataku, ”mana?’ sahutku cepat.
”ya dimejamu lah.”
”selamat pagi mbak, tadi ada kiriman bunga dan makanan buat mbak, sudah saya taruh dimeja” sapa mas OB ramah
”makasih ya mas’ sahutku sembari tersenyum
Pasti dari Al nih, tumben jadi romantis.
Kobolak balik kotak kue didepanku, tapi tak kutemukan nama pengirimnya lalu kuambil rangkaian bunga segar yang masih tergeletak diatas meja, kubuka kartu mungil yang menyertainya, tertulis kata selamat pagi dan inisial H disana, menyisakan tanya dihatiku.
“Mas, beneran kiriman ini untuk saya?” tanyaku ke mas OB
”benar kok mbak, tadi yang ngirim bilang kiriman ini buat mbak Dewi, kenapa to mbak?”
”ehm gak pa2 kok, cuma takut salah, ya udah makasih ya mas”
Berkas yang begitu banyak, surat surat yang menumpuk membuatku begitu sibuk hari ini, aku masih berkutat dengan pekerjaan ku hingga mendengar suara HP yang berdering terus menerus, nomor yang asing, biasanya aku gak pernah menghiraukan telepon tanpa nama yang masuk, tapi kali ini aku penasaran.
”Pagi De, suka gak sama kue dan bunganya?” kata suara diseberang
O, jadi yang menelpon nih si pengirim misterius itu, tapi kok aku gak kenal sama sekali sama suaranya ya
”ehm, maaf dengan siapa ya?” tanyaku
’aku dah susah payah milihin bunga dan kuenya, kalau kamu gak suka kan jadi sia-sia”
”tapi ini siapa ya?”
”aduh ternyata kamu benar benar nggak mengenaliku ya, aku adalah seseorang yang paling sering duduk disebelahmu”
”maaf, aku gak ingat nih”
”aku Lambang, Herlambang ingat kan?’
”kamu.Herlambang?. inget.. inget!!! kamu kan suka bikin onar dulu”
”ha..ha..ha..” terdengar tawamu begitu renyah
”iseng amat pake kirim bunga segala”
”itu buat nebus penyesalanku yang dulu gak berani memberimu bunga”
Kami ngobrol dari a sampai z, ternyata asik juga ngobrol panjang lebar sama teman lama.
Aku jadi ingat jaman sekolah dulu, kelasku terkenal super, bukan karena pinter tapi karena badung, dan Herlambang jadi salah satunya, meski begitu kami kompak habis. Mendadak aku kangen sama mereka, tersenyum aku mengingatnya.
Sejak hari itu hampir setiap pagi aku mendapat berbagai kejutan darinya belum lagi telepon dan sms konyolnya yang tak berjeda, meski kami tak pernah bertemu, aku jadi merasa dekat dengannya. Semua hal dia ceritakan padaku, termasuk kehidupan pribadinya sebenarnya itu tidak menjadi masalah buatku, namun kadang aku merasa ada yang janggal, ada sesuatu yang diluar batas buatku.
Lama kelamaan aku merasa tidak nyaman, aku ingin melepaskan banyak hal dari diriku satu persatu, tanpa merusak yang lainnya, seperti mengambil duri dari batang tanpa meluruhkan kelopak bunganya. Kuceritakan semua kegalauanku tentang Lambang, tentang semua hal yang berkaitan dengannya, dan menurut Al, Lambang hanya membutuhkan teman curhat dan dia memilihku untuk itu, suamiku memang gak pernah melarangku dekat dengan semua temanku termasuk teman pria, karena dia tahu siapa aku, bahkan dia menyuruhku menemui Lambang untuk meyakinkan semua akan baik baik saja.
Langit berwarna jingga, saat kujejakan kakiku didepan rumah bercat putih dengan bunga beraneka warna yang tertata rapi, dua pohon besar menaungi tanaman perdu, menambah kesejukan. Kuketuk pintu rumah Lambang, kutetapkan hati menemuinya, aku ingin membicarakan banyak hal dengannya, terlebih aku ingin memastikan bahwa tidak ada yang salah dengannya.
”Silakan duduk dulu jeng,” kata perempuan yang meski sudah sepuh tapi masih kelihatan cantik dan anggun.
”Ini Jeng Dewi kan…. teman SMA nya Lambang ?” tanyanya lagi
Aku senyum setengah bingung, darimana beliau tahu aku Dewi, bertemu saja baru kali ini, dan aku juga gak bilang kalau aku mau datang.
Rumah yang menyenangkan, dengan sentuhan khas perempuan jawa, dan jendela jendela yang lebar membuat aroma daun terasa sejuknya,
”Jeng, Lambang sedang mandi, ibu temani dulu ya
”Jeng Dewi sekarang lenggah dimana, sudah kromo belum?”
”kok bisa sampai kesini jeng, tentu Lambang akan senang sekali”
Tanya beliau bertubi-tubi, belum sempat aku menjawab Lambang keluar dengan senyum khasnya.
”kaget ya.. kalau ibu mengenalmu” katanya sambil tertawa
Seakan tahu apa yang ada dipikiranku, digandengnya tanganku masuk keruang kerjanya, mataku terpaku pada lukisan perempuan yang dipajang didinding, wajah yang sangat aku kenal. Aku gak tahu pasti berapa lama aku terdiam aku merasa ada yang salah yang tak bisa kubiarkan aku tahu kalau dia berharap lebih, tapi tidak denganku, aku ingin dia tahu bahwa dia hanyalah temanku, hanya teman tidak lebih.
Mendadak aku terdiam aku tak lagi bisa bicara, hanya mendengarkannya, dan aku tidak suka dengan apa yang ia bicarakan, ”cinta” mungkin kalau itu cinta dimasa lalu aku akan tertawa mendengarnya, tetapi itu adalah cintanya saat ini, apalagi cinta yang dia bicarakan adalah cinta dan keinginanya hidup bersamaku, sungguh bukan pada tempatnya, dan yang paling menyebalkan, Lambang nekat bersimpuh dikakiku memohon cinta, tak peduli walau aku tak lagi sendiri, aku merasa sia sia aku menemuinya, aku merasa tak perlu lagi bicara karena aku tahu dia tak akan pernah peduli dengan segala omonganku.
Sejak aku menemui Lambang aku tak mau lagi berhubungan dengannya, aku merasa bersalah telah memberinya kesempatan untuk dekat denganku, aku berharap Lambang akan mengerti bahwa apa yang dikejarnya itu salah. Ternyata semua itu tidak membuat Lambang sadar, dia mengatakan pada banyak orang kalau kami saling mencintai, bahkan nekat menemui Al memintanya untuk melepaskanku. Sungguh perbuatan yang jauh dari dugaanku.
Al menatapku dengan tatapan sayang, dan senyum yang begitu tulus, aku merasa beruntung hidup bersamanya, aku hanya bisa diam disebelahnya, menatap langit diatasku yang bertaburan bintang, sesekali mataku mengikuti gerak awan tipis yang menutupi kerlip bintang kurapatkan tubuhku di pelukan Al, aku tak ingin kehilangan cintanya. Ribuan bintang di bentangan langit mengerling malu, seakan tahu kalau aku tengah terlena dalam hangatnya cinta.
31-01-2012
Percaya… semua akan baik baik saja